Rubik.


 Seperti larut dalam mimpiku sendiri.

Sudah kehilangan akal bahkan sampai tak mengenal diri.

Hamparan asa yang dulu kita pupuk, kini hanya menggantung di ujung tanduk.

Rumit rasanya untuk dapat diselesaikan sendiri.

Memecahkan rumus hanya bermodal ego pribadi.


Untuk apa kita berjalan sampai ke batas?

Kalau akhirnya hanya belajar untuk melepas.


Kau kenal betul, aku tak pernah berlari ketika badai datang.

Dan kau sadar betul, bukan aku yang memilih untuk pergi dan meninggalkan luka yang meradang.


Ku hanya mampu mengamini kala itu.

“Untuk bahagia dijalannya masing-masing” katamu.

Komentar

Postingan Populer