Teruntuk tuan bermata cokelat.





Sajak ini aku tulis ditengah udara dingin Bandung, 8 September 2016. 05:19, aku merindukanmu. Sangat.

Rindu ini ku sampaikan untuk seseorang yang selalu memiliki sabar dan kata maaf untukku. Semoga Tuhan selalu memberikan jalan untuk selalu mempersatukan kita. Amin.

Terimakasih untuk tidak pernah mengeluh atasku.
Walaupun aku tahu dan kamupun tahu diluar sana  banyak gadis yang lebih dariku. Terimakasih karena telah mencintaiku apa adanya diriku.

Hingga detik ini aku masih heran, mengapa bisa kamu begitu sabar menghadapiku.
Aku yang seperti anak kecil dan tak bisa menyembunyikan perasaan. 
Aku yang kasar dan keras kepala.
Aku yang jauh dari kata sempurna untukmu.
Tapi dengan semua keburukanku itu tak sedikitpun kau berniat meninggalkan.
Betapa beruntungnya aku.

Tuan, diluar sana banyak sekali gadis yang istimewa.
Namun terimakasih sudah bertahan, meski aku tak sempurna.

Aku tahu tak sekali kita bertengkar seperti dua orang keras kepala.
Aku yang selalu menyalahkan keadaan ataupun kau merutuki segala kesalah pahaman.
Tapi tak apa, toh kita selalu menemukan jalannya.

Entah bagaimana bisa, orang yang dulu terasa sangat begitu asing kini menjadi seseorang yang sangat aku takutkan kepergiannya. Kau hebat tuan.

Oh iya, kamu tau apa alasanku menulis sajak ini? 
Karena aku merasa tulisan adalah satu-satunya media ketka suatu saat tangan ku tak lagi mampu untuk memelukmu hangat seperti saat ini. 

Tapi percayalah, jika seorang wanita sudah menuliskanmu dalam tulisannya, maka kemungkinannya hanya dua.
Dia begitu membencimu.
Atau.
Dia begitu menyayangimu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer